|
Drg. R.P Bambang Noerjanto, M.S.,Sp.RKG: Selesaikan Kuliah Dokter Gigi Sambil Menjadi Dosen Muda
Perjalanan karir drg. R.P Bambang Noerjanto, MS.,Sp.RKG. diawali dengan menjadi dosen muda saat beliau masih menjalani kuliah semester 8 di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Saat itu beliau bersama dua teman lainnya mendapat tawaran dari dosen FKG untuk menjadi dosen muda. Dengan pertimbangan yang matang, beliau akhirnya menerima tawaran tersebut sambil meneruskan kuliah. Pada tahun 1976, beliau lulus menjadi sarjana dokter gigi kemudian melanjutkan S2 Magister Ilmu Kedokteran Dasar di Universitas Airlangga dan lulus pada tahun 1986.
Pada pertengahan karir beliau, tepatnya tahun 1978 beliau resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan profesi dosen. Ketika menjadi dosen dan studi S2, beliau sangat tertarik pada ilmu radiologi. Timbul keinginan beliau untuk memecah radiologi menjadi sub kecil yang memiliki bagian tersendiri. Hingga pada akhirnya beliau mengusulkan pada rektor untuk membuka jalur spesialis pertama radiologi di UNAIR. Hal itu menjadi hal yang mengesankan bagi beliau karena menjadi pionir spesialis radiologi. Dahulu spesialis radiologi masih belum diakui eksistensinya, tetapi seiring perkembangan zaman spesialis radiologi mulai berkembang dan diakui eksistensinya. Di Indonesia baru 17 orang yang mengambil spesialisasi tersebut termasuk beliau pada kala itu.
Suka duka selama berkarir di dunia pendidikan
“Dunia pendidikan itu menarik daripada dunia bisnis,” ujar Pak Bambang dengan nada meyakinkan, “sebagai pendidik kita harus tahu karakter yang diajar dan kita harus menguasai yang diajarkan. Dosen juga harus rajin mencari sumber ilmu pengetahuan, tidak hanya dari textbook tetapi bisa media lainnya seperti browsing dan harus mengikuti perkembangan IPTEK.” Beliau mengaku senang jika mahasiswanya rajin dan interaktif dengan dosen. Beliau juga sangat dekat dengan mahasiswanya. Dari kedekatan dengan mahasiswanya tersebut beliau diberi amanah menjadi Pembantu Dekan III (PD 3) bidang Kemahasiswaan FKG UNAIR periode 2002-2007. Menurut beliau hal berkesan saat menjadi PD3 adalah ketika beliau mulai mengusulkan program beasiswa untuk jenjang diploma (D3). Saat itu, pemberian beasiswa selalu ditujukan pada jenjang Sarjana (S1).
Usulan tersebut disetujui oleh rektor UNAIR dan seiring perkembangan zaman kini sistem tersebut pun juga diberlakukan di IIK BW yakni pemerataan beasiswa baik untuk S1 maupun D3. Beliau mengaku sangat senang bisa memberikan kontribusi positif bagi pemerataan beasiswa.
Prestasi yang paling berkesan
Prestasi yang paling berkesan menurut beliau adalah saat mendapat amanah menjadi ketua panitia Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Padang. Saat itu saya berhasil mendapat sponsor dan kerjasama dengan Maskapai Garuda untuk membawa kru mahasiswa dan dosen sebanyak 212 orang dari Surabaya untuk pergi ke Padang naik Pesawat Garuda pada tahun 2012. Hal itu sempat menjadi perbincangan nasional. “Betapa senangnya saat itu, karena kami juga berhasil meraih juara pertama pada kegiatan ilmiah tersebut.” tutur Pak Bambang dengan penuh kelegaan.
Tips menjadi pendidik versi Pak Bambang
Pesan beliau untuk menjadi pendidik harus biasa untuk mendengarkan lawan bicara bicara. Dengarkan dahulu apa yang dikatakan mahasiswa dan cerna baik-baik apa yang hendak disampaikan mahasiswa agar terjalin komunikasi baik antara dosen dan mahasiswa.
Pesan khusus untuk mahasiswa
Selain belajar, sebagai mahasiswa sangat perlu menjalin hubungan baik dengan sesama karena kalau hanya dengan belajar saja, Anda lulus kuliah kemungkinan tidak memiliki banyak teman dan tidak dapat membangun relasi. Mahasiswa harus pintar bergaul, buat hubungan baik dengan teman, dosen, kakak kelas, misalnya saling bertukar pikiran atau ikut organisasi kampus.
Prinsip Hidup
“Apa yang ditugaskan, akan saya kerjakan sebaik mungkin sesuai kemampuan saya,” ujar Pak Bambang dengan lugas. Setahun sebelum pensiun dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), tepatnya tahun 2014 beliau resmi dilantik menjadi Rektor IIK BW hingga tahun 2017. Apapun yang ditugaskan, beliau jalani dengan semaksimal mungkin.
Dukungan penuh oleh keluarga
Semasa beliau menjadi Rektor IIK BW, dukungan dari keluarga selalu tercurahkan pada beliau. Beliau yang dianugerahi dua anak dan telah mempunyai empat cucu ini mengaku bersyukur bisa mendapat amanah sebagai rektor IIK BW dan menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh totalitas. Beliau rela membagi waktunya demi bolak balik Kediri-Surabaya dan tetap tidak melupakan kewajibannya sebagai pemimpin keluarga. “Keluarga saya memberi kebebasan pada saya dan selalu memprioritaskan urusan di IIK BW. Jadi ketika saya harus ke Kediri, keluarga saya mendukung dan memberi kelonggaran,”ucap pria kelahiran Malang, 12 Juli 1950 silam.
Hal berkesan selama di IIK BW
Selama menjadi rektor di IIK BW beliau selalu berusaha membuat mahasiswa dekat dengannya. “Saya berhasil membuat ruang rektor sebagai ruang yang nyaman dan enak untuk berkonsultasi, bukan seperti ruangan yang menakutkan, karena dulu sebelum saya menjadi rektor, ruangan rektor itu “sangat steril” dari mahasiswa. Mahasiswa dianggap tidak sopan jika masuk ruang rektor. Namun, saya berhasil mengubah paradigma itu menjadi sosok rektor yang dekat dengan mahasiswa,” ujar Pak Bambang.
Kini setelah selesai menjabat rektor, beliau pun mendapat tugas baru menjadi komite medik RSGM IIK BW. Selain itu beliau juga masih aktif praktik di RSGM UNAIR serta menekuni praktik mandiri dokter gigi di rumahnya.
|