Institut Ilmu Kesehatan

Sinar UVC Jadi Disinfektan Corona, Tapi Amankah Bila Terpapar Manusia?

27 Jul 2020 16:56  
By: Rizki Aprilia
 

Sejak terjadi pandemi COVID-19, berbagai produk pencahayaan sinar ultraviolet (UV) berkembang dan menjadi sorotan. Hal ini dilatarbelakangi dengan beredarnya kabar bahwa sinar ultraviolet (UV) dapat membunuh virus corona (COVID-19). Meskipun hal ini belum dipastikan kebenarannya namun sudah ada yang mencobanya. Salah satu universitas Thailand sudah membuat lorong sinar UV yang harus dilewati oleh para mahasiswa. Hal ini digunakan untuk mendisinfeksi tubuh mereka. Lalu, apakah benar sinar UV efektif untuk membunuh virus corona dan adakah dampaknya bagi manusia? Simak penjelasannya berikut ini.

Radiasi ultraviolet merupakan salah satu bentuk radiasi elektromagnetik yang berasal dari matahari. Seperti yang kita ketahui, sinar matahari memproduksi beberapa jenis sinar ultraviolet, diantaranya sinar ultraviolet A (UVA), sinar ultraviolet B (UVB), dan sinar ultraviolet C (UVC).

UVA memiliki panjang gelombang paling kecil sekitar 315-400 nanometers. Meskipun tidak menjadi penyebab secara langsung, paparan UVA dapat menyebabkan munculnya tanda-tanda penuaan pada kulit, seperti kulit kering, muncul keriput dan flek hitam, dan dapat memicu kanker kulit. Sedangkan, panjang gelombang yang dimiliki oleh UVB berkisar antara 280-315 nanometers lebih banyak dibandingkan UVA. UVB dapat merusak sel kulit secara langsung dan menjadi faktor pemicu kulit terbakar. Kedua jenis sinar ultraviolet ini sudah cukup dikenal dan dapat dicegah dengan memakai  sunscreen ber-SPF yang tinggi.

Sementara UVC adalah sinar UV yang paling mengerikan, karena mampu memberikan kerusakan terbesar pada kulit. UVC dapat berpenetrasi ke dalam lapisan kulit paling dalam. Sinar UV ini difilter oleh atmosfer dan tidak dapat mencapai permukaan bumi. Para ilmuwan menemukan bahwa mereka dapat memanfaatkan UVC untuk membunuh mikroorganisme. Sinar ini dinilai sangat baik dalam menghancurkan bahan genetik partikel virus. Sejak penemuan pada tahun 1878, UVC yang diproduksi secara artifisial telah menjadi metode pokok sterilisasi yang digunakan di rumah sakit, pesawat terbang, kantor, dan pabrik. Gelombang yang terkandung dalam sinar tersebut disebut bisa menonaktifkan mikroorganisme dengan cara menghancurkan asam nukleat dan mengganggu DNA mereka, sehingga mikroorganisme tidak bisa melakukan fungsi vitalnya. Memang, belum ada penelitian spesifik yang membuktikan efektivitas sinar UV berjenis UVC dalam membunuh COVID-19. Namun para ahli telah membuktikan kalau sinar UVC efektif menangani jenis virus corona lainnya, yakni Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Menurut badan Kesehatan dunia World Health Organization (WHO), belum ada sinar UV, termasuk UVC sekalipun yang bisa membunuh virus corona (COVID-19). Selain itu, lampu sinar UV yang biasanya digunakan sehari-hari, justru menyebabkan kulit teriritasi. Dalam beberapa detik saja, sinar UVC bisa menyebabkan luka bakar pada kulit. Pernahkah Anda merasa silau saat melihat matahari? Ya, sinar UVC bisa menyebabkan mata silau 10 kali lebih parah jika langsung terkena mata. Mengerikan, bukan? Untuk mendapatkannya, Anda memerlukan perlengkapan khusus dan hanya para ahli saja yang memiliki akses pada perlengkapan ini.

Faktanya saat ini sangat mengerikan. UVC banyak ditemukan pada beberapa peralatan yang dibuat oleh manusia, seperti lampu merkuri dan lampu UV untuk membunuh bakteri dan kuman. Padahal sudah cukup jelas bahwa paparan langsung dari UVC dapat menyebabkan beberapa dampak buruk untuk kesehatan tubuh bila tidak digunakan dengan tepat.

UVC Bisa Sebabkan Gangguan pada Kulit dan Mata

Paparan UVC dalam jangka pendek dapat menyebabkan kemerahan dan reaksi peradangan seperti iritasi pada kulit. Dilansir dari Health Physics Society, hindari paparan UVC terhadap mata secara berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman pada mata, walaupun sebenarnya gejalanya bisa mereda.

Paparan sinar UV secara umum dapat mempengaruhi kornea mata. Kondisi ini umumnya dikenal sebagai keratitis ultraviolet. Melansir Cleveland Clinic, ada beberapa gejala yang dialami oleh pengidap keratitis ultraviolet, seperti nyeri pada mata, kemerahan, mata berair, gangguan penglihatan, pembengkakan pada area mata, sensasi mata berpasir, dan mengalami kedutan pada area kelopak mata.
 

Lalu bagaimana penggunaan sinar UVC yang benar?

Sebaiknya gunakan sinar UVC pada ruangan yang kosong atau tidak ada manusia satupun yang berkegiatan didalamnya. Misalnya saat malam hari atau pagi sebelum jam kerja, bisa juga saat jam istirahat siang. Penggunaan sinar UVC setidaknya selama 15-30 menit agar mendapatkan hasil yang maksimal, yakni terbunuhnya mikroorganisme karena apabila sekadar terkena cahayanya saja maka virus dipastikan belum mati. 

Penggunaan peralatan pengaman diri menjadi hal yang penting ketika Anda berada berdekatan dengan sinar UVC. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak buruk yang terjadi pada kesehatan, seperti menggunakan kacamata, sarung tangan, atau jaket laboratorium. Jika ingin menggunakan UVC pada ruangan, sebaiknya sesuaikan ukuran ruangan dan besar lampu UVC yang digunakan. Terapkan jarak aman dengan lampu UVC dan jangan berada terlalu dekat dengan lampu UVC. Jika tidak, kondisi ini dapat membahayakan pengguna lampu UVC sendiri.

Terakhir, berhati-hatilah dalam membeli UVC di platform jual beli online karena marak barang tiruan dan tidak dapat dijamin kualitas dan keamanannya. Pastikan UVC-nya memang berfungsi untuk membunuh mikroorganisme (germicidal). Belilah pada distributor yang resmi dan cek fungsi lampunya secara berkala untuk memastikan efektivitasnya. Semoga dengan adanya informasi ini, tidak ada penyalahgunaan terhadap sinar UVC yang sedang marak saat ini. Selalu bijak dan berhati-hatilah saat menggunakan alat ini.

Leave Reply


Follow Us

More News

Siap Menuju World Class University: IIK BW Laksanakan Restrukturalisasi Pengurus

Keseriusan IIK Bhakti Wiyata menuju World Class University bukan isapan jempol belaka. Buktinya hari...

FKG IIK BW Selenggarakan Seminar Online Dentaforia Series 2: New Breakthrough in Dentistry

Fakultas Kedokteran Gigi IIK BW menggelar seminar online Dentaforia "New Breakthrough in Dentis...

FKG IIK BW Adakan Seminar Online: New Breakthrough in Dentistry

Sejak pandemi COVID-19 menyerang Indonesia sejak Maret 2020 lalu, beberapa praktik dokter gigi ...

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat Laksanakan Seminar Online Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat menggelar seminar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) secara daring, ...

Fakultas Kedokteran Gigi IIK BW Laksanakan Yudisium secara Daring

Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) IIK Bhakti Wiyata melaksanakan kegiatan yudisium dokter gigi mud...

Archived Posts

Categories


  UNIVERSITY
Visi Misi
Pimpinan Akademis
Sejarah IIK BW
Fasilitas Kampus
Rektor IIK BW Masa ke masa
Penghargaan
COURSES
Fakultas Kedokteran Gigi
Fakultas Farmasi
Fakultas Ilmu Kesehatan
Fakultas Sains, Teknologi & Analisis
STUDENT
Jurusan Yang Tersedia
Pendaftaran Online
Kalender Akademik
Beasiswa
Biaya Pendidikan
Cara Pembayaran
PARTNERSHIP &
COMMUNITY
Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat
Lembaga Penjamin Mutu Internal IIK
INTERNATIONAL
About IIK
Achievements
Our City
How To Apply Visitor Visa
Tuition Fee
International Partnership
 

"Developing Health Experts"

Pendaftaran IIK Facebook IIK Instagram IIK Youtube IIK
Map IIK

CONTACT

Jl. KH. Wahid Hasyim 65
Kediri 64114 Jawa Timur
Tlp. 0354 773299 / 773535
Fax. 0354 721539
HP: 0822 3086 8898

SITE TRAFFIC

Site Traffic Last 24 Hours Last 24 hrs
16,268 
Site Traffic Last 7 days Last 7 days
137,167 
Site Traffic Last 30 Days Last 30 days
684,226 

Online Now

459